Memulai kembali, 2019

Sepertinya esai panjanglah yang paling tepat mewadahi seluruh pemikiran selama setahun belakangan. Bukan instagram, twitter, ataupun ditulis dan disimpan dalam buku saja. Mungkin saya harus jadikan ini sebuah ritual, refleksi diri.

2018 merupakan waktu yang paling banyak naik-turunnya. Pemikiran saya benar-benar dibongkar, yang awalnya tidak tahu menjadi lebih tau. Bahkan yang awalnya tau jadi kembali merasa sama sekali tidak tau!

Berangkat dengan panduan kerja rupanya belum cukup bagi saya. Guru saya adalah dengan bertanya, membaca, mendengarkan dan berdiskusi dengan expert, mencoba dan membuktikan sendiri. Bisa dibilang “trial and error” di bidang pengembangan masyarakat.

Pengembangan, seperti apa?

Semuanya berawal dari buku referensi mengenai kajian seorang antropolog di kawasan konservasi TN Lore Lindu, namanya Tania Li. Dengan pendekatan etnografi, semua seluk-beluk masyarakat, gejolak dan dinamika sosial berhasil digambarkan. Betapa sebuah (dan banyak lainnya) program pemerintah, lembaga, dan lainnya dibedah. Mulai dari pendekatan yang dipakai se-partisipatif mungkin, respon masyarakat “target” atau subjek program, hingga capaian dan dampak yang dirasakan.

Setiap lembaga dan program dibahas metode pendekatannya, yang lebih melihat pada aspek humanis/psikologinya. Tidak sedikit yang dampak secara sosial-ekonominya tidak cukup signifikan, bahkan cenderung “mengganggu” tatanan dan interaksi sosial yang ada.

Di titik tersebut, saya yang notabene sedang melaksanakan program pembangunan menjadi tergelitik. Bingung di mana peran saya, dan bagaimana saya dan tim akan berperan. Terlebih membuat intervensi se-relevan mungkin dengan komunitas tersebut. Di situlah peran fasilitator menjembatani proses dan target yang ingin dicapai — yang kadang merupakan target program, bukan masyarakat.

Lantas, apa peran saya?

Saat memulai program, saya menyadari kapasitas saya baru di level eksekutor, tapi di situlah saya belajar banyak. Di satu sisi, saya cukup percaya diri bahwa modal kapital yang dimiliki program bisa meng-handle ini.

Dalam proses menjajaki daerah tugas, melakukan pendataan dasar, secara tidak langsung saya telah mengumpulkan segala macam ideologi dan strategi. Kebanyakan ternyata… Strategi nongkrong di warung atau warung kopi. Suatu hal yang sangat jauh dari apa yang saya bisa (dan nyaman) untuk lakukan.

Jadi, bersyukur sekali saya belajar dari praktisi satu Yayasan di Bali yang telah berkiprah dalam pengorganisasian selama puluhan tahun — beliau wanita pertama yang bergerak di bidang ini di Bali sejak 90an dulu. Berangkat dari keluarga petani dan dianugerahi kepekaan sosial dan rasa dari interaksi dengan alam terlebih tanaman.

Belajar juga dari praktisi lainnya, seorang putra daerah yang menemukan passion-nya dengan melayani, menjembatani masyarakat (beliau pernah mengumpulkan dana online, crowd funding untuk bangun jembatan di desa), menggerakan masyarakat dengan kata-kata ajaibnya.

Di situ lah saya belajar banyak, bahwa bekerja dengan manusia, apalagi merubah pola pikir, berarti harus pertama-tama punya diri dan pemikiran yang baik dan benar, terlebih dahulu. Ini yang jadi tantangan, karena seringkali kita berpikir tidak sistematis, hanya berpikir permukaan saja, ataupun melewati proses dan mau langsung menuju garis finish.

Apalagi mengubah/meng-update jalan pikir orang lain. Menstrukturisasi hal-hal yang masih berkembang bebas, tidak teratur. Mengelompokkan hal-hal sesuai kemampuan-fungsinya masing-masing agar dapat berjalan maksimal. Seringkali saya meminta dukungan orang-orang “hebat” yang saya sebutkan di atas adalah caranya, sehingga sekaligus saya belajar.

(to be continued)

Advertisements

Yuk, Berwisata Sambil Jaga Lingkungan di 3 Desa Ekowisata Alor!

Ada yang istimewa dari ajang pameran pariwisata Expo Alor tahun ini (20/09/2018). Alor memperkenalkan 3 destinasi desa ekowisata baru yang mengajak wisatawan menikmati alam sambil merawatnya. Tak hanya itu, tema perlindungan laut juga disosialisasikan pada oleh pengunjung Expo Alor, yang merupakan bagian dari kawasan Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan laut sekitarnya.

Desa Pante Deere, Kelurahan Kabola, dan Desa Munaseli merupakan tiga desa pesisir di Alor yang mengembangkan wisata dengan prinsip-prinsip bertanggung jawab dan berbasis masyarakat.

Peluncuran ketiga destinasi ekowisata baru Alor ini merupakan kolaborasi Dinas Pariwisata Kabupaten Alor, Yayasan Wisnu, Mala Tours, WWF-Indonesia, serta badan usaha di tiap desa yaitu BUMDes Pante Deere, Forum Komunikasi Nelayan Kabola (FKNK), dan BUMDes Munaseli.

Berwisata Sambil Merawat Lingkungan, Seperti Apa?

Kegiatan berwisata adalah salah satu kegiatan pemenuhan dari kebutuhan spiritual. Selain penyegaran dari rutinitas, dengan berwisata, seseorang akan mendapat pengalaman baru dan nilai yang dapat dijadikan pembelajaran.

Melalui kegiatan wisata desa berbasis lingkungan-budaya yang dikelola masyarakat, atau disebut sebagai ekowisata, seorang wisatawan dapat mengalami hal-hal baru dengan keunikannya masing-masing. Terlebih, kegiatan yang diangkat adalah berdasarkan keseharian masyarakat dan akar sejarah budaya setempat.

Misalnya saja, dalam paket ekowisata Jelajah Pulau Sika dan Pembibitan Mangrove di Kelurahan Kabola, pengunjung tak hanya bisa mengagumi hamparan pasir putih Pulau Sika, tetapi juga mengenali jenis-jenis tanaman pesisir dan hewan endemik di sana.

Bahkan, pengunjung dapat mengunjungi pembibitan mangrove dan menanam langsung anakan mangrove di pantai. Tak hanya itu, pengunjung juga diajak mengamati duyung (Dugong dugon) yang hidup di perairan Mali. Tentunya, pengamatan dilakukan dari atas kapal dan sesuai dengan tata cara pengamatan duyung yang ramah lingkungan.

Lain lagi dengan atraksi wisata yang ditawarkan paket Jejak Putri Laut dan Kolam Gurita dan Mezbah Lambang Persatuan di Desa Pante Deere. Sambil berwisata, pengunjung diajak untuk melihat langsung aktivitas masyarakat pesisir seperti budi daya rumput laut dan menangkap ikan.

Sementara, di Desa Munaseli, pengunjung diajak untuk menelusuri hikayat kejayaan Kerajaan Munaseli di zaman dulu. Pengunjung juga bisa mencoba berladang, menggiling jagung, dan menikmati panganan lokal ketupat jagung – mata pencaharian utama masyarakat Munaseli sejak dahulu.

Berwisata Sambil Membantu Berkembangnya Usaha Desa

Dengan mengunjungi desa ekowisata, wisatawan dapat mendukung kegiatan pengawasan pesisir dan laut, khususnya duyung dan habitatnya, yang dilakukan oleh Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang ada di masing-masing desa.

Pokmaswas bersifat sukarela di tingkat masyarakat yang didorongkan oleh pemerintah melalui Dinas Kelautan Perikanan di kabupaten dan provinsi setempat. Pokmaswas memiliki tugas utama untuk memberikan informasi mengenai ancaman perikanan merusak (bom, racun, potassium) yang masih dihadapi oleh masyarakat pesisir dan laut serta pelanggaran merusak lainnya yang ditemukan di kawasan konservasi perairan.

Karena sifatnya yang sukarela, dibutuhkan berbagai alternatif usaha yang digerakkan di basis masyarakat untuk mendanai kegiatan mereka. Dengan dorongan pemerintah dan lembaga lainnya, berbagai kegiatan telah dilakukan oleh masyarakat untuk mendanai kegiatan mereka, salah satunya melalui pendanaan swadaya dari desa, kegiatan pariwisata, usaha perikanan, maupun usaha-usaha lainnya.

Peluncuran desa ekowisata ini tentunya masih merupakan langkah awal pembelajaran. Salah satunya adalah pariwisata bukanlah hal yang utama, namun poin terpenting adalah keberlanjutan sumber daya alam dan ketahanan pangan masyarakat sekitar. Masyarakat yang dapat konsisten melestarikan alam dan budayanya lah yang dapat menikmati manfaat dari kegiatan wisata.

Saat ini, WWF-Indonesia dalam program konservasi duyung dan lamun (DSCP) Indonesia terus mendorongkan adanya pelestarian dugong dan habitatnya sebagai salah satu bagian dari kekayaan alam di wilayah perairan Kabupaten Alor dan sekitarnya. Anda juga bisa mendukung upaya konservasi duyung dan lamun di Alor melalui paket ekowisata ini dipromosikan oleh Mala Tours dan mitra WWF lainnya.

Seperti dimuat dalam https://www.wwf.or.id/?69042/Yuk-Berwisata-Sambil-Jaga-Lingkungan-di-3-Desa-Ekowisata-Alor-Ini

Membangun Kembali Rumah Ikan di Batu Putih dan Kisah di Baliknya

“Awalnya saya dan Bli (I Made Dharmajaya) hanya jalan sore ke Pantai Batu Putih. Kemudian muncul ide membangun rumah ikan dengan rock pile untuk kembalikan wilayah perairan yang telah rusak. Kebetulan saya juga akan ada kegiatan reses bersama dalam waktu dekat,” jelas Denny Lalitan.

DSC_0054

Siang hari itu (13/8/2018), kami bersama Om Denny — begitu beliau biasa disapa – anggota DPRD Kabupaten Alor sekaligus pemerhati lingkungan, serta Dinas Kelautan Perikanan Alor, Universitas Tribuana Kalabahi, Dinas Pariwisata Alor, dan masyarakat setempat berkumpul bersama di Pantai Batu Putih. Kali ini tidak hanya bersantai menikmati indahnya pemandangan salah satu obyek wisata favorit di Kabupaten Alor ini, namun bersama melakukan aksi pengembalian batu (terumbu karang yang sudah mati) ke laut.

Tua-muda, bapa-mama, hingga anak-anak kecil bersama-sama bahu-membahu mengangkat batu tersebut ke laut. Susunan batu tersebut hendak dikembalikan ke laut, guna disusun menjadi tumpukan batu di dasar laut (rock pile). Bebatuan tersebut pertama-tama dimobilisasi satu persatu dan diangkat ke dalam perahu bermotor, kemudian dilemparkan ke dasar perairan.

Penyelam SCUBA maupun penyelam tradisional yang telah berada di dasar perairan kemudian mengambil dan merapihkan bebatuan tersebut untuk disusun bertingkat dengan dimensi 3×1,5×0,5 meter kubik. Seluruh proses dilakukan selama kurang lebih 4 jam dimulai saat laut mulai pasang pukul 12.00 WITA. Terdapat 2 orang personil penyelam SCUBA dan kurang lebih 4-5 orang penyelam tradisional yang terlibat dalam pembuatan rockpile ini.

2. Mengangkat batu - Denny Lalitan

Keberhasilan rock pile

Rock pile merupakan salah satu metode rehabilitasi terumbu karang secara alami. Penyusunan batu bertujuan untuk memberikan substrat bagi menempelnya anakan (juvenile) terumbu karang. Susunan rock pile pun dibuat dengan adanya rongga guna memberikan ruang bagi tumbuhnya organisme.

Pada tahun 2013, metode tersebut juga dipakai dalam rehabilitasi bawah air di perairan Desa Marica, Pulau Kangge. (lihat artikel rehabilitasi terumbu karang di Kangge https://www.wwf.or.id/?67044/Kabar-Gembira-Sebagian-Ekosistem-Terumbu-Karang-Perairan-Pulau-Kangge-Alor-Pulih-Setelah-5-Tahun-Penanaman-Rockpile). Pertumbuhan juvenile karang mencapai 12 cm dalam 5 bulan pada substrat bebatuan kapur.

Namun, berbeda dengan Pulau Kangge, kali ini penyusunan rock pile dilakukan menggunakan batu (terumbu) karang (mati) yang sebelumnya diangkat dari bawah laut ke darat dan dikumpulkan oleh masyarakat. Saat ini, bongkahan dan patahan karang, kerikil, serta pasir masih dikumpulkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan bangunan. Bahan-bahan tersebut digunakan sebagai komponen penyusun rumah pribadi, maupun dijual ke luar. Satu ret (satuan untuk kumpulan susunan batu) dihargai Rp 250.000,00 untuk bongkahan batu ukuran besar, Rp 350.000,00 untuk kerikil dan Rp 500.000,00 untuk pasir.

5. penambangan pasir di kec. kabola

“Meskipun dinyatakan terancam karena pemboman dan penambangan, secara umum kondisi terumbu karang di kawasan pesisir Batu Putih cukup bagus. Dapat diperkirakan rock pile di wilayah ini dapat ditumbuhi terumbu karang dalam waktu 2 tahun mendatang,” ujar I Made Dharmajaya — Alor-Flotim MPA Coordinator for WWF LSS.

Kondisi terumbu karang yang beraneka jenis dapat memberikan ketersediaan “bibit” alami hewan karang. Karang yang sedang memijah di kolom perairan akan menembakkan sel jantan dan telurnya pada kolom perairan, selanjutnya sel anakan yang telah tumbuh dan menjadi larva akan menempel pada substrat bebatuan.

Berdasarkan eksperimen Fox et al (2005) di Taman Nasional Komodo, larva karang cenderung lebih mudah tumbuh pada rock pile karena merupakan substrat yang paling alami. Hal inilah yang salah satunya menjadi pertimbangan pemilihan metode rock pile, dibandingkan dengan proses buatan manusia seperti transplantasi karang.

Seperti tercantum dalam https://www.wwf.or.id/?68042/Membangun-Kembali-Rumah-Ikan-di-Batu-Putih-Alor-dengan-Rockpile

“Gembala” – Gerakan Mengembalikan Batu ke Laut Agar Masyarakat Alor Lebih Peduli Lingkungan

Para pegiat penanaman rock pile ini kemudian menyebut gerakan ini sebagai “Gembala”, Gerakan Mengembalikan Batu ke Laut. Tujuannya adalah untuk menurunkan kecenderungan masyarakat untuk menambang pasir, kerikil, batuan dan terumbu karang yang ada di laut. Setelah mengetahui peran pentingnya terumbu karang sebagai “rumah ikan” kehadiran terumbu karang dan dan pasir-batuan pesisir sebagai pencegah garis pantai dari ancaman abrasi, diharapkan masyarakat dapat lebih peduli dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

Isu penambangan pasir, kerikil, dan bebatuan dari pesisir

Penambangan pasir, kerikil, dan batu merupakan salah satu isu yang hangat dibicarakan di kawasan yang dihuni oleh masyarakat yang hidup di pesisir, termasuk di Kabupaten Alor. Sejak 2012, Pemerintah Daerah telah menetapkan Perda Kabupaten Alor No. 03 Tahun 2012 yang mengatur mengenai pengambilan bahan-bahan yang dikategorikan sebagai bahan galian C dan diatur penggunaannya. Ketetapan dalam UU No. 23 Tahun 2014 yang menyebutkan tentang kewenangan kawasan perairan 0-200 mill dari garis pantai menunjukkan kewenangan kawasan perairan berada di wilayah pengelolaan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT.

Telah ditetapkannya kawasan konservasi Suaka Alam Perairan Selat Pantar dan Laut Sekitarnya lantas belum serta merta membuat pengelolaan yang ada di dalamnya 100% efektif, khususnya dari segi pengawasan dan penegakan hukum. Penentuan strategi yang tepat dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan idealnya menjadi perhatian setiap stakeholder yang berperan dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi.

Peta SAP Selat Pantar dan Laut Sekitarnya.png

Masyarakat menyatakan masih mengumpulkan batu karena masih adanya permintaan dari masyarakat khususnya dari Kota Kalabahi. Permintaan merupakan salah satu aspek yang penting dalam rantai perdagangan komoditas bahan tambang ini. Masyarakat Alor sejak tahun 2000-an mulai diperkenalkan dengan bangunan rumah dengan batu bata yang dianggap lebih “layak”. Dari situ, secara rasional masyarakat menggunakan bahan-bahan yang ada di alam pesisirnya sebagai bahan untuk membangun rumah pribadi maupun fasilitas umum.

Dalam sesi wawancara dengan masyarakat Dusun Batu Putih, salah seorang menyatakan bahwa penghasilan dari penjualan batu tiap bulannya tidak cukup banyak dan kurang sepadan dengan usaha yang dilakukan. Hal ini jauh berbeda dengan menangkap ikan atau budidaya rumput laut yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat yang lebih tinggi.

Namun pekerjaan yang kerap dilakukan oleh kaum wanita ini, tetap menjadi pilihan sebab merupakan pilihan pekerjaan sampingan yang dapat dilakukan untuk mendukung perekonomian keluarga.

Dusun Batu Putih hanyalah salah satu contoh. Idealnya, pemanfaatan kawasan pesisir saat ini penting disokong oleh kajian daya dukung lingkungan agar dapat diketahui kemampuan suatu wilayah menerima dampak eksploitasi.

Pengurangan tekanan dapat dilakukan dengan mengetahui alternatif mata pencaharian lain yang potensial untuk dilakukan sesuai identitas masing-masing wilayah. Mendorongkan kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat seperti budidaya rumput laut, peningkatan pengolahan perikanan dan pertanian, maupun pengembangan pariwisata dapat menjadi beberapa alternatif bagi kegiatan pemanfaatan yang merusak.

Ferryanto Padabain, staf Dinas Pariwisata Kabupaten Alor, penggagas jargon Gembala menyatakan harapannya kepada masyarakat Alor agar makin peduli dan mencintai lingkungan. “Selain Gembala, ada juga Gempala – Gerakan Mengembalikan Pasir ke Laut,” ujar beliau.

Ferry juga menyatakan pentingnya kerja sama dan dukungan antar instansi pemerintah untuk membuat gerakan ini makin bergema. “Kita bisa memulai dengan menyuarakan gerakan ini lewat radio-radio di Alor,” tambahnya.

Seperti tercantum pada https://www.wwf.or.id/?68044/Gembala—Gerakan-Mengembalikan-Batu-ke-Laut-Agar-Masyarakat-Alor-Lebih-Peduli-Lingkungan

Menemukan alasan

Kita semua selalu berada di persimpangan jalan, pada akhirnya.

Sore itu saat saya berkesempatan kembali ke Jakarta, saya termenung. Semua hal yang telah saya jalani adalah buah dari apa yang saya pilih di masa lalu. Dengan dan tanpa sadar, ada alasan di balik keputusan-keputusan tersebut.

Pertanyaannya, mengapa manusia bisa memilih? Pertimbangan apa saja yang ada di benak mereka saat mengambil keputusan? Untuk siapa keputusan itu diambil? Apa untung-ruginya, mana yang lebih berat?

Hal-hal ini yang berulang kali berputar di kepala saat berada di tengah kebimbangan. Terutama bagi saya yang cukup indecisive. Pada akhirnya, saya hanya bisa memilih satu, yang membuat saya nyaman. Ya, selebihnya sebenarnya saya hanya membuat-buat dan mencari-cari alasan.

Dengan membuat perbandingan, menemukan alasan, kita sebenarnya sedang berusaha merasionalisasi sebuah situasi. Mencoba menemukan nilai-nilai yang paling menguntungkan buat kita. Bisa dibilang, mana hal yang paling dapat dicapai dengan usaha yang paling kecil. Kurang lebihnya seperti prinsip ekonomi, keuntungan maksimal dengan usaha minimal.

Begini kurang lebih kalau dijabarkan:

1. Menuliskan pilihan keputusan yang tersedia

2. Mengidentifikasi indikator yang ada

3. Mengkategorikan kondisi dan peluang

4. Mengeliminasi pilihan-pilihan yang membuatmu tidak nyaman

5. Meyakinkan diri sendiri, bahwa yang tersisa adalah keputusan terbaik

6. Jalani keputusan, percaya diri

7. Lakukan yang terbaik, bersyukur.

Menuliskan ini sebagai catatan bagi kita semua yang kesulitan memilih, cenderung mau menyenangkan orang lain. Dalam prosesnya, terkadang keberanian bukan berarti harus melakukan yang ekstrim, tetapi berani mengambil keputusan untuk dirimu sendiri. Toh kamu yang akan menjalaninya.

Semoga semua umat manusia berbahagia!

Catatan: sebenarnya kamu sudah tau, semesta pun sudah menunjukkan tanda-tandanya 🙂

Happiness

Everyone’s looking for happiness. I even once read a book about one, “Hector and the Search of Happiness” which later became a movie.

But for me, now, happiness is as simple as having a chance to greet your parents every morning. To call/ video call them before we start our each day. To know how my friends’ doing on their workplaces. To make sure myself is okay and on track with my work and life plan.

I’m trying to appreciate life and deliver happiness in a simplest way I could.

2017, tahun penuh kejutan

Seperti anak milenial pada umumnya, dengan senang hati saya membuat kolase best nine instagram di tahun 2017. Tidak pernah nyangka bakal bisa punya foto-foto warna-warni berlatar belakang dan warna utama biru dan hijau yang semenenangkan hati itu. At least buat saya 🙂

Warna-warni kehidupan beruntungnya dapat saya alami dalam tahun 2017 ini. Belum semuanya dapat saya tuangkan dalam tulisan, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk merangkum perjalanan batiniah saya selama setahun terakhir.

Tahun 2017 lalu saya belajar banyak, bahwa kesempatan belajar datang ketika kita lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Menjawab tantangan demi tantangan yang datang, yang kita minta. Bahkan yang awalnya hanya dapat atau bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

6 bulan pertama

Bulan Januari saya dikejutkan dengan penugasan yang diberikan kepada saya, yang masih baru 6 bulan berada di dunia wisata laut bertanggung jawab ini, untuk menggunakan kembali tools yang kami susun bersama. Kali itu kepada kapal pesiar di Raja Ampat. Betapa tidak terduganya :’)

Belajar banyak sekali saat itu, salah satunya bahwa masih banyaknya gap yang ada, sebagai hasil dari kepengelolaan wisata dan kawasan konservasi yang ada.

  1. Dana retribusi yang diminta, berdasarkan pengamatan saya selama beberapa hari di sana, belum dapat secara efektif dikelola sehingga belum dapat secara langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
  2. Kawasan konservasi yang ada menurut saya cukup ironis, karena masyarakat tidak bisa dengan bebas memanfaatkan dan mengambil hasil lautnya sendiri. Kenapa? Karena wilayahnya telah dikelola oleh sebuah resort yang menekankan keberlanjutan (bisnisnya) dan kelestarian wilayah ekosistem terumbu karang dan ikan yang menghuninya tersebut.

Well, ini masih menurut saya yang melihat secara umum mengenai kondisi yang ada. Saya pun juga baru 4 hari bertugas di sana.
Bulan kedua, ketiga terus berjalan dengan mobilitas yang cukup tinggi. Berpindah dari satu daerah ke daerah lain untuk mengumpulkan data dari tools tersebut. Secara umum saya dapat sedikit gambaran mengenai bagaimana asek kelautan di beberapa wilayah dikelola, dan bagaimana sebuah usaha wisata dikelola. Tapi tetap, cukup sedikit yang saya rasa dapat saya lakukan untuk masyarakat.

Memang betul-betul idealis saya, saat itu.

Kemudian, peluang datang. Saya dapat tantangan untuk menjawab “permintaan gila” hasil ke-idealis-an saya yang sempat keluar saat saya berdiskusi dengan salah satu bapak di kantor pusat. Puji Tuhan saya mendapat tantangan untuk bekerja di site (tempat jauh) dengan misi spesifik dan jangka waktu singkat, benar-benar belum tergambar. Setelah banyak pertimbangan, berdiskusi sana-sini, dan berkontemplasi — saya terima tawaran tersebut. Terlebih keberanian saya mengambil keputusan karena dukungan orang tua saya, sangat bersyukur karenanya.

6 bulan kedua

Bulan-bulan pertama di tanah rantau penuh dengan gejolak. Meraba-raba hal baru, yaitu bekerja dengan masyarakat saat itu saya mulai. Saya yang notabene adalah penghuni ibukota yang terbiasa berangkat subuh untuk “mengakali” macet kini dihadapkan pada alur hidup yang mengalun dan berjalan lebih lambat. Belajar banyak dari hidup bermasyarakat dari rekan kami yang sudah bertahun-tahun lamanya bekerja dengan masyarakat lokal (indigenous people) dan membangun banyak champion lokal di beberapa daerah.

Trip pertama saya adalah mengelilingi area kerja saya, wilayah pesisir Kabupaten Alor dari bagian kepala burung pulau tersebut hingga ujung Barat Daya Pulau Pantar.

Banyak sekali pelajaran yang dapat saya petik dari perjalan tersebut, yang bisa saya tuangkan dalam cerita, satu per-satu dalam sebuah runutan cerita perjalanan saya. Sepertinya akan keren 🙂

Setelah memutuskan bahwa kami hanya akan bekerja pada 3 daerah secara terpusat, terdapat beberapa tantangan demi tantangan yang kami hadapi. Komunikasi, kerja tim, dan kebutuhan akan adanya support dari orang-orang terdekat saya, sungguh 6 bulan pertama di tanah rantau ini masa-masa terberat saya. Terlebih saya belum sekalipun merantau dalam waktu yang panjang, tanpa kesempatan pulang ke rumah.

Terus belajar, mengenal diri

Saya lebih banyak mengenal diri saya sendiri, selama perjalanan ini. Saya merasakan betul, bahwa lingkaran kehidupan saya sangat kecil, siapa saja support system saya, siapa yang bisa saya andalkan, dan siapa yang sebaiknya tidak. Bersyukur bisa belajar banyak selama proses tersebut — pelajaran terbaik saya adalah menyadari pentingnya menjadi pembelajar seumur hidup.

Saya termasuk tipe manusia yang harus mengalami sendiri, baru percaya. Sejak kecil, jika diperingati oleh orang lain, saya cenderung ngeyel, mau membuktikan sendiri. Saat dinilai “kamu cocok jadi peneliti” atau dianggap “ikan yang besar” dan kurang cocok ditaruh di kolam kecil, saya cenderung ngeyel — mau membuktikan bahwa penilaian itu salah. Justru, dengan pernyataan tersebut saya malah mengambil tantangan itu. Saya merasa mampu — bisa dikatakan sombong — karena berpikir dapat mengatasi tantangan tersebut. Namun setelah menjalaninya, ya Tuhan, betul-betul saya diuji dan diminta untuk bertekun dalam usaha-usaha saya.

Saya juga belajar lebih kuat, lebih dekat dengan Pencipta saya. Saat-saat berdoa saya jalani dengan lebih baik setiap minggunya (ya, saya akui saya lebih khusyuk dibanding sebelum-sebelumnya) daripada waktu-waktu sebelumnya.

Dan demikian, sedikit rangkuman perjalanan batiniah saya selama 2017 lalu.